Bangku, Sofa Biru dan Sekotak Rokok (3)
Sekotak Rokok. Tiga hari sesudahnya.
Una:
Aku menyesal harus mengatakan itu semua tiga hari yang lalu. Aku hanya mencintai dia sebagai saudara yang tak pernah aku miliki. Hingga setahun terakhir aku merasa aman dan tentram. Aku hanya tak ingin kehilangan ia. Kenapa ia tidak berkata jika masanya telah tiba?
Dan kemudian Una menangis, dalam, tajam, kelam.
Ari:
Aku menyesal harus mengatakan itu semua tiga hari yang lalu. Aku telah memiliki dia sebagai saudara yang tak pernah aku miliki. Hingga setahun terakhir aku merasa aman dan tentram. Aku telah membuat diriku kehilangan ia. Kenapa ia tidak berkata jika masanya telah tiba?
Dan kemudian Ari terpekur, dalam, tajam, kelam.
Dewa:
Bangku, Sofa Biru dan Sekotak Rokok. Untuk Una dan Ari. Tidak tahu aku kapan kalian akan membaca ini. Yang pasti aku tahu jika kalian berdua telah membacanya, maka aku tidak lagi ada. Tidak di samping kalian, untuk jaga kalian. Bagaimanapun perubahan itu, tidak pernah berhenti dan akan berubah sayangku bagi kalian. Ari yang akan jadi saudaraku, sepanjang hayat dan akhiratku. Una yang akan jadi perempuanku, sepanjang hayat dan akhiratku. Untuk kalian berdua sisa hidupku aku berikan, agar kalian dapat saling jaga dan melindungi, setidaknya untukku.
Bangku, untuk Una, yang kamu tahu adalah masa-masa bahagiaku dengan kamu. Sofa Biru, untuk Ari, yang kamu tahu adalah masa-masa senangku dengan kamu. Sekotak Rokok, untuk kalian berdua, yang kalian tahu adalah masa-masa sedihku bersama kalian.
Jagakan diri kalian untukku. Lindungkan masing-masing dari kalian untukku.