Bangku, Sofa Biru dan Sekotak Rokok (2)

Sofa biru. Hari yang sama.

Aku tidak tahu, berapa lama sofa biru ini ada di kafe ini. Yang pasti sejak pertama aku datang kemari, sofa ini sudah ada. Sofa yang aku kenali sebagai tempat utama bagi para pemikir yang seringkali mengkaitkan kemampuan berpikir optimal mereka dengan jumlah asupan nikotin yang merasuk dalam otak. Tidak pernah terjelaskan secara ilmiah, setidaknya untukku, apakah memang ada korelasi antara kedua hal tersebut.

Tapi saat ini hal itu tidaklah penting, karena aku ingin membicarakan tentang sofa biru itu. Sofa yang memang benda tidak hidup, namun keberadaannya memberikan makna lebih atas suatu kehidupan yang bergulir, tanpa henti. Diam, bisu seperti biasanya, sebagaimana seharusnya.

Tapi hari itu, ia memberikan makna yang berbeda. Waktu itu, jelas sekali aku mengingatnya hingga hari ini, aku menanti seseorang yang aku harapkan akan datang. Dengan selingkar harapan bermata janji, dengan seuntai cinta bertahtakan kesungguhan. Untuknya yang tak akan pernah bisa aku berkata tidak padanya, orang yang memiliki makna lebih bagiku dalam tiga belas putaran purnama.

Ia berjanji untuk datang, dan ia mengatakan padaku untuk menanti sejenak, dan kini aku makin gelisah dalam penantian yang melewati ambangnya, bersama sofa biru. Kukatakan dalam hatiku sendiri, ia sedang dalam jalan menuju kemari, pasti.

Sepuluh menit berlalu saat aku menemukannya bergegas menghampiri dengan tergesa. Ia tersenyum, dan aku menyunggingkan sesuatu yang aku yakin lebih menyerupai seringai ketimbang senyuman.

Kemudian ia bertanya padaku, gerangan apa yang membawaku memintanya untuk bertemu, di waktu biasa, di tempat yang umumnya kami bertemu untuk bercerita. Terdiam aku, tidak dalam waktu yang sejenak, tertambah kebekuan dan kekakuan dari lidahku yang kelu, yang bagiku adalah kesia-siaan waktu yang mengganggu. Hingga suatu saat aku menghela nafas, di saat yang sama aku sadar bahwa ia menantiku untuk berbicara. Aku menghela nafas gelisah, dan dengan kesungguhan, aku mulai menceritakan suatu hal.

Suatu hal yang buatnya mengejutkan, karena adalah hal baru. Suatu hal yang melibatkan dirinya atas pilihan jalan hidupku. Suatu hal yang seringkali kami diskusikan dalam hari-hari kami berbagi.

Aku, diriku, dan seluruh hal atas diriku, menginginkan dirinya menjadi bagian dari cerita tentang jalan hidupku. Ia adalah orang yang selama ini aku inginkan. Ia adalah orang yang selama ini aku dambakan. Ia adalah orang yang selama ini aku harapkan. Suatu kenyataan yang aku sadari kemudian, tidak pernah ia berharap akan datang dariku, tidak pernah ia membayangkan akan hadir dariku, tidak pernah ia menduga akan singgah seperti ini.

Ia terdiam, membisu, seperti biasanya sofa biru yang kami duduki hari ini. Aku memandang cemas dan makin gelisah. Jelas diam bukan pilihanku untuk menyelesaikan semua ini. Aku kemudian jelas meracau, bahwa aku menyuburkan rasa itu atas dirinya karena ia adalah ia, yang satu bagiku. Bahwa aku berbagi rasa itu kini, karena aku rasa waktunya telah tiba. Masih ia terdiam, membisu, seperti biasanya sofa biru yang kami duduki hari ini.

Dalam cemasnya aku lalu mencoba meraih tangannya, yang dengan pasti ia menepisku, kaku. Ia kemudian tersenyum, dan dengan ketetapan hati yang kuat yang ia berikan untukku, seperti di hari yang lain kami berbagi, ia jelaskan padaku. Ia adalah dirinya. Baginya jalannya adalah jalannya, hanya karena ia memilihnya.

Aku adalah aku. Bagiku jalanku adalah jalanku, hanya karena ia inginkan atasku pula. Di masa yang lalu, kini juga nanti, aku akan menempati tempat yang sama dalam hati, saudara bagi dirinya yang juga dilahirkan sendiri. Tidak lebih, tidak kurang. Ia hargai keputusanku atas hidup dan jalanku, dan ia hargai keputusan dirinya atas hidup dan jalannya.

Kelu, tak lama itu yang ada pada bibirku. Lesu, kemudian yang kurasa. Sayu, akhirnya saat aku beranjak dari sofa biru dan meninggalkan tempat itu. Sesuatu mengatakan padaku, mungkin bisikan sang sofa biru, ini terakhir kalinya aku bertemu dengannya.

Leave a Reply