Bangku, Sofa Biru dan Sekotak Rokok (1)
Bangku. Hari ke-13 dari hari akhir sang Taurus.
Bangku itu memang sengaja diletakkan di balkon kantorku. Untuk para perokok yang selalu mengkaitkan kemampuan berpikir optimal mereka dengan jumlah asupan nikotin yang merasuk dalam otak. Tidak pernah terjelaskan secara ilmiah, setidaknya untukku, apakah memang ada korelasi antara kedua hal tersebut.
Tapi saat ini hal itu tidaklah penting, karena aku ingin membicarakan tentang bangku kayu itu. Bangku yang memang benda tidak hidup, namun keberadaannya memberikan makna lebih atas suatu kehidupan yang bergulir, tanpa henti. Keberadaannya yang menjadi sarana baku bagi kami, para manusia yang tiada henti berpikir.
Bangku itu baru saja berfungsi sebagaimana ia seharusnya, setelah aku mengumumkan secara resmi keberadaannya untuk kenyamanan para perokok, baik aktif maupun pasif, tanpa saling menganggu wilayah masing-masing. Jadi tidak lebih dari sebulan ia bersedeku di sudut balkon itu. Diam, bisu seperti biasanya, sebagaimana seharusnya.
Tapi hari itu, ia memberikan makna yang berbeda. Hari Rabu, hari ke-duabelasnya ditasbihkan sebagai singgasana berpikir. Waktu itu, jelas sekali aku mengingatnya hingga hari ini, datang seorang tamu yang tak terundang. Di tengah hiruknya dokumen kerja, di antara pikuknya pertemuan tak terduga. Meski begitu, tak akan bisa aku berkata tidak padanya, orang yang memiliki makna lebih bagiku dalam tiga belas putaran purnama.
Kukatakan padanya untuk menanti sejenak, dan kutawarkan pada ia yang jelas gelisah tampaknya bagiku, untuk menunggu di balkon merokok bersama bangku kayu. Kukatakan pula aku akan segera mengambil waktu istirahat untuk bercakap dengannya.
Sepuluh menit lewat saat aku menemukannya dengan batang rokok kedua. Ia hisap dan hembuskan dengan tergesa. Aku tersenyum, dan dia menyunggingkan sesuatu yang menurutku tidak mirip sebuah senyum sama sekali.
Kemudian aku bertanya padanya, gerangan apa yang membawanya menemuiku, di waktu yang tidak biasa, di tempat yang bukan umumnya ia meminta bertemu untuk bercerita. Terdiam ia, tidak dalam waktu yang sejenak, tertambah kebekuan dan kekakuan dari tarian asap rokok yang bagiku adalah kesia-siaan yang mengganggu. Namun aku tetap bersabar, hingga suatu saat aku menghela nafas, ia sadar bahwa aku menantinya untuk berbicara. Aku berikan isyarat atas jam tanganku, tanda untuk terbatasnya waktuku untuknya kali ini. Ia menghela nafas gelisah, dan dengan kesungguhan dalam suaranya, ia mulai menceritakan suatu hal.
Suatu hal yang buat aku tidak mengejutkan, karena bukan hal baru. Suatu hal yang menjadi pilihan ia atas jalan hidupnya. Suatu hal yang seringkali aku dengar dari mulutnya dalam hari-hari kami berbagi. Tinggal sejengkal lagi habis sabarku karena waktuku tidak banyak untuk mendengar cerita yang sama. Tidak kali ini, tidak di tempat ini. Saat itulah ia memperjelas sesuatu, sesuatu yang menjadi bagian dari suatu hal yang ia selalu bagi untukku.
Aku, diriku, dan seluruh hal atas diriku, ternyata adalah bagian dari cerita tentang jalan hidupnya itu. Aku adalah orang yang selama ini ia inginkan. Aku adalah orang yang selama ini ia dambakan. Aku adalah orang yang selama ini ia harapkan. Suatu kenyataan yang aku tidak pernah berharap akan datang padaku, tidak pernah membayangkan akan hadir darinya, tidak pernah menduga akan singgah seperti ini.
Aku terdiam, membisu, seperti biasanya bangku yang kami duduki hari ini. Ia memandang cemas dan makin gelisah. Tampaknya diam bukan pilihan ia atas reaksiku. Ia kembali meracau, bahwa ia menyuburkan rasa itu atas aku karena aku adalah satu, yang satu baginya. Bahwa ia berbagi rasa itu kini, karena ia tak mampu lagi menanti, di atas purnama-purnama yang lain lagi. Masih aku terdiam, membisu, seperti biasanya bangku yang kami duduki hari ini.
Dalam cemasnya ia lalu mencoba meraih tanganku, yang dengan pasti menepisnya, kaku. Aku kemudian tersenyum, dan dengan ketetapan hati terkuat yang bisa aku berikan untuknya, seperti di hari yang lain kami berbagi, aku jelaskan padanya. Aku adalah aku. Bagiku jalanku adalah jalanku, hanya karena aku inginkannya.
Dia adalah dia. Baginya jalannya adalah jalannya, hanya karena aku inginkannya pula. Di masa yang lalu, kini juga nanti, ia akan menempati tempat yang sama dalam hati, saudara bagi aku yang dilahirkan sendiri. Tidak lebih, tidak kurang. Aku hargai keputusan ia atas hidup dan jalannya, dan aku hargai keputusan aku atas hidup dan jalanku.
Kelu, tak lama itu yang muncul darinya. Lesu, kemudian yang tampak darinya. Sayu, akhirnya saat ia beranjak dari bangku dan meninggalkan tempat itu. Sesuatu mengatakan padaku, mungkin bisikan sang bangku, ini terakhir kalinya aku bertemu dengannya.