pagi ini aku merasa berdosa pada seekor kucing…. ia yang sedang bersantai menikmati sinar matahari di teras depan rumahku, kukejutkan dengan pintu depan yang kubuka…
kucing itu terkejut (secara dia melompat takut) dan lari ke arah barat, ke pintu pagar kecil rumahku. namun jelas ia memilih sisi yang salah dari pagar itu: sisi bawah dengan jeruji yang rapat. maka terbenturlah kucing itu dengan suara yang nyaring: dhuang!!!!
makin terkejut ia, berlari ke arah berlawanan, ke pintu pagar besar rumahku. dan jelas, lagi-lagi, ia memilih sisi yang salah dari pagar itu: sisi bawah dengan jeruji yang rapat. dan kembali terbenturlah kucing itu dengan suara yang tak kalah nyaring: dhuang!!!!
dalam keterkejutan yang makin-makin, ia kembali berlari ke pintu pagar yang kecil, sembari lewat mendesis marah padaku yang memandang tertegun pada kucing itu, dan memilih (lagi) sisi bawah dengan jeruji yang rapat. dan kembali terbenturlah kucing itu dengan suara yang tak kalah nyaring: dhuang!!!!
ia lalu lari kembali ke pagar besar, menerjang sisi bawah, namun sebelum membenturkan kepalanya lagi, ia berubah pikiran, berlari dan melompat ke bagian tengah pagar rumahku, yang mempunyai jeruji longgar. dan loloslah ia….
———– ini sungguh kisah nyata hari ini ———–
sungguh kucing yang malang, membenturkan kepalanya tiga kali baru ia dapat belajar menemukan jalan keluarnya. mungkin karena tergesa dan ketakutan demi melihat aku yang terlongong dan terbengong melihat perjuangan dia. aku sungguh ingin tertawa atas kejadian itu, namun kasihan juga dia.
mungkin seperti itu juga ya kalau manusia juga harus belajar berulang-ulang, terbentur beberapa kali, baru menemukan jalan keluar. hanya karena ia tergesa karena ketakutannya dan kekhawatirannya.
tapi kalau manusia yang melakukan itu, yang jelas tidak akan selucu si kucing malang , karena manusia punya akal kan?