Janji Seroja (End)
Monday, January 29th, 2007Maret, 10, tahun 2005. 15.47. Janji Seroja
Sunyi hari itu. Tidak banyak manusia yang berhendak duduk dan menanti di taman yang selalu indah, seperti sore itu. Meski sunyi, tak terasa sepi taman itu, juga diriku.
Ia, seroja hatiku, berjanji hadir sore itu. Di sisi kanan dari mata angin utama, sebagaimana kami biasa memberikan kepercayaan hati kami masing-masing. Di saat mana aku berkeluh kesah dan ia meluaskan hatinya untukku. Di saat ketika ia berkeluh kesah dan aku melapangkan hatiku untuknya.
Sudah empat puluh tujuh menit aku menanti, tak jua terdengar suaranya memanggilku, menyebut namaku dan menggenggam tanganku untuk membawaku pulang. Menit ke empatpuluh delapan, namun tetap tidak ada perubahan, hingga kecemasanku mulai lahir membawa kebisuan yang mencekam di hati.
Satu menit menuju dua pertiga hari itu, dan saat itulah aku mendengar suara hangatnya menyapaku seperti biasa. Aku memalingkan kepalaku, memandang sejenak ke suara itu berasal. Ia ada di sana, perempuan yang kukenal, serasa akrab dan tanpa rasa asing. Ia adalah serojaku. Ia meraih tanganku, menarikku ke arahnya, dan ia lalu memelukku, erat. Kemudian ia berbisik, jelas di telingaku, “Aku tidak akan pernah ingkar janji. Untukmu, dan bagiku pula”.
Saat itu langit menjadi lebih cerah, taman yang indah menjadi lebih berwarna, dan aku tersenyum. Dalam, sungguh dalam ke dalam hati yang tentram.
———————————————————————————-
Malang, 27 Oktober 2006.